• Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, Oktober 10, 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
Portal Banyumas Raya
  • Beranda
  • Banyumas
  • Purwokerto
  • Cilacap
  • Banjarnegara
  • Kebumen
  • Jawa Tengah
  • Beranda
  • Banyumas
  • Purwokerto
  • Cilacap
  • Banjarnegara
  • Kebumen
  • Jawa Tengah
No Result
View All Result
Portal Banyumas Raya
No Result
View All Result
Home Jawa Tengah

Tulisan Reflektif Soroti Peran Penulis Menjaga Kemanusiaan di Tengah Zaman yang Gaduh

by Renae Browning
Oktober 3, 2026
in Jawa Tengah
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Sebuah tulisan reflektif berjudul “Di Tengah Sunyi, Kita Masih Menjadi Manusia” mengangkat tema tentang peran para penulis dan pembaca dalam menjaga keadaban serta kemanusiaan di tengah derasnya arus teknologi dan kegaduhan informasi. Tulisan itu dibuka dengan sapaan kepada “para penjaga lentera di tengah badai peradaban” dan kepada setiap jiwa yang masih memegang pena ketika dunia lebih sibuk memegang layar ponsel. Pesan utamanya ditujukan kepada mereka yang menulis bukan demi pujian, kedudukan, atau tepuk tangan, melainkan karena ada sesuatu yang terasa tidak selesai ketika kebenaran dibiarkan berlalu begitu saja.

Tulisan tersebut juga menyapa mereka yang mungkin tak pernah mendapat panggung, tak banyak disebut dalam berita, dan karya-karyanya barangkali hanya dibaca oleh segelintir orang, namun tetap duduk, menyusun kata, menenun makna, dan memelihara sedikit keadaban di tengah zaman yang semakin gaduh. Penulisnya lalu melempar pertanyaan tentang kelelahan: pernahkah merasa lelah sedemikian rupa hingga ingin berhenti? Dulu, tulisnya, kita bisa pergi ke tepi pantai dan berteriak kepada ombak agar membawa pergi segala beban. Kini barangkali kita hanya duduk di ruang kecil, di lantai yang dingin, membuka buku atau layar, kemudian menulis.

Menulis digambarkan bukan untuk siapa-siapa, melainkan sebagai salah satu cara untuk tetap waras menghadapi dunia. Di sana ditemukan kesunyian, tetapi justru di dalam kesunyian itu kadang seseorang menemukan dirinya sendiri. Tulisan ini juga menyoroti bagaimana dunia di luar terus berbicara, pesan datang tanpa jeda, berita berlari lebih cepat daripada pikiran sempat memeriksa kebenarannya, dan jempol bergerak lebih cepat daripada hati sempat mempertimbangkan akibatnya.

Kritik terhadap teknologi menjadi salah satu bagian penting tulisan tersebut. “Teknologi menjanjikan kedekatan. Tetapi kedekatan tidak selalu melahirkan keakraban,” demikian bunyi salah satu bagiannya. Kita bisa begitu dekat di layar, tetapi begitu jauh dalam kemanusiaan. Orang saling menyapa sekaligus saling mencela, saling mengikuti sekaligus saling menjatuhkan. Kata-kata yang dahulu menjadi jembatan, kini kadang berubah menjadi batu yang dilemparkan kepada siapa saja yang berbeda. Nilai seseorang pun perlahan sering disederhanakan menjadi angka: berapa pengikutnya, berapa tanda suka, berapa kali dibagikan, seolah kebenaran dapat ditentukan oleh jumlah tepuk tangan.

Dalam bagian lain, tulisan itu menegaskan bahwa luka tidak selalu harus dilawan dengan kemarahan, karena luka juga bisa dirawat dengan kata. Sastra, tulisnya, tidak selalu menunjuk hidung seseorang, cukup meletakkan cermin di tengah ruangan, dan selepasnya biarlah masing-masing melihat wajahnya sendiri. Sebuah contoh sederhana dikisahkan: seorang pelajar bertanya tentang kata-kata yang memiliki bunyi akhir serupa, yakni birokrat, laknat, jahat, khianat, penjahat, dan bangsat. Gurunya kemudian menambahkan: ingat, lahat, kualat, menghujat, sekarat. Keduanya mungkin hanya sedang bermain bunyi, tetapi ketika kata-kata itu diletakkan berdampingan, ia seperti menyusun potret tentang negeri.

Refleksi itu juga mengangkat kisah lama tentang seekor kera yang justru menjadi teladan kemanusiaan. Ia bukan manusia secara biologis, tetapi dalam kisah pewayangan digambarkan memiliki keberanian, kesetiaan, kecerdasan, dan pengabdian. Bahkan dalam perjalanan spiritualnya, ia menjadi simbol bahwa kemuliaan tidak semata-mata ditentukan oleh bentuk lahir. Di situlah kisah Hanoman menjadi menarik, sebab manusia ternyata tidak otomatis menjadi manusia hanya karena dilahirkan sebagai manusia. Menjadi manusia adalah pekerjaan seumur hidup, dengan hawa nafsu yang harus dijinakkan, keserakahan yang harus dikendalikan, kesombongan yang harus ditundukkan, dan kekuasaan yang harus diingatkan bahwa dirinya sementara.

Pada akhirnya, tulisan tersebut menyimpulkan bahwa peradaban diuji bukan ketika kita mempunyai kekuasaan, melainkan ketika kita memiliki kekuasaan dan tetap mampu menahan diri; bukan ketika kita bisa membalas, melainkan ketika kita mampu memilih untuk tidak membalas. Perjuangan menjadi manusia tidak selalu berlangsung di jalan raya, di podium, atau di ruang sidang, melainkan sering kali berlangsung diam-diam di dalam diri, tempat setiap orang berhadapan dengan dirinya sendiri.

Renae Browning

Renae Browning

Recommended

Apa Sebabnya, Java United Memulai Kompetisi Super League dengan Minus Poin

1 bulan ago

LP2K Jateng Desak Kasus Keracunan MBG Diusut Pidana dan Perdata

4 minggu ago

Popular News

    Connect with us

    • Redaksi
    • Kode Etik Jurnalistik
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Privacy Policy

    © 2026 Portal Banyumas Raya. All rights reserved.

    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Banyumas
    • Purwokerto
    • Cilacap
    • Banjarnegara
    • Kebumen
    • Jawa Tengah

    © 2026 Portal Banyumas Raya. All rights reserved.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In