PURBALINGGA – Sebanyak puluhan pelaku eduwisata dan kelompok usaha di Desa Muntang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, mengikuti pelatihan tata kelola keuangan pada Minggu, 13 September 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Limbah Pustaka ini bertujuan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat melalui pengelolaan keuangan yang tertib dan transparan.
Pelatihan ini merupakan kolaborasi antara Universitas Telkom Kampus Purwokerto dan Universitas Pertiwi dalam Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB). Program tersebut mengusung tema “PDB Transformasi Desa Muntang menjadi Sentra Eduwisata Literasi dan Peternakan Rakyat melalui Teknologi Tepat Guna serta Penguatan Manajemen dan Keuangan Komunitas Berbasis Digital.” Ketua tim pengabdian, Dasril Aldo, didampingi anggota Toni Anwar, Ajeng Diah Kurniawati, Dr. Sri Mulyani, S.E., M.M., dan Widya Lelisa Army. Adapun narasumber utama adalah Retno Ramadhina dan Setiawati, S.AB., M.M., dengan dukungan mahasiswa Muhammad Zaky Mubarok, Ichya Ulumiddiin, dan Elisa Kusumaningsih.
Ketua Limbah Pustaka, Roro, menyambut baik keberlanjutan pendampingan ini. Menurutnya, pengembangan eduwisata tidak hanya membutuhkan atraksi menarik bagi pengunjung, tetapi juga kemampuan masyarakat dalam mengelola organisasi dan usaha secara lebih tertib. Senada dengan itu, Imam dari mitra peternakan Ayam Petet Lestari menilai penguatan manajemen dan keuangan menjadi bagian penting. “Peningkatan produksi perlu diikuti dengan kemampuan mencatat biaya, pemasukan, pengeluaran, dan hasil usaha agar perkembangan usaha dapat diketahui secara lebih terukur,” ujarnya.
Ajeng Diah Kurniawati dari Universitas Telkom menegaskan bahwa pemberdayaan desa tidak cukup hanya melalui penerapan teknologi. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan manajemen, serta kemampuan masyarakat dalam mengelola hasil program juga diperlukan agar manfaat kegiatan dapat berjalan mandiri. Sementara itu, Dr. Sri Mulyani dari Universitas Pertiwi menekankan bahwa tata kelola keuangan menjadi fondasi dalam membangun usaha yang sehat dan berkelanjutan. “Kemandirian ekonomi desa tidak hanya dibangun dari meningkatnya produksi atau penjualan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mengelola keuangan secara tertib, transparan, dan terukur,” katanya. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan serta DPPM atas dukungan program ini.
Pada sesi utama, Setiawati memberikan materi pengelolaan keuangan komunitas dan usaha. Ia menekankan pentingnya memisahkan uang pribadi, uang usaha, dan kas organisasi serta mencatat setiap transaksi secara konsisten. “Usaha yang ramai belum tentu menghasilkan keuntungan jika keuangannya tidak dicatat dengan baik. Pelaku usaha harus mengetahui dengan jelas berapa uang yang masuk, berapa yang dikeluarkan, dan berapa keuntungan yang sebenarnya diperoleh,” jelasnya. Materi mencakup pemisahan kas, pencatatan transaksi melalui buku kas, penyusunan anggaran, hingga perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP). Peserta juga dibekali pengelolaan buku kas utama, buku piutang, buku utang, serta rekonsiliasi kas agar kondisi keuangan dapat diketahui berdasarkan data, bukan perkiraan.
Selain tata kelola keuangan, Retno Ramadhina memberikan materi Bahasa Inggris untuk memperkuat kemampuan komunikasi pelaku eduwisata. Widya Lelisa Army dan Toni Anwar turut mendukung pelaksanaan program, sementara para mahasiswa mendampingi peserta selama kegiatan. Program ini didanai melalui Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Melalui pelatihan ini, masyarakat Desa Muntang diharapkan tidak hanya mampu mengembangkan potensi eduwisata dan usaha lokal, tetapi juga memiliki tata kelola keuangan yang lebih tertib, transparan, dan berbasis data. Dengan demikian, kemandirian ekonomi desa dapat terwujud secara berkelanjutan.


