Serangan hama tikus menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian di Jawa Tengah. Kondisi ini mendorong pakar hama dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) untuk menawarkan solusi pengendalian yang tepat. Unsoed, yang berlokasi di Purwokerto, Banyumas, dikenal memiliki keahlian dalam bidang pertanian dan hama.
Tikus merupakan salah satu hama utama yang merusak tanaman padi, jagung, dan komoditas lainnya. Serangan tikus dapat terjadi secara massal dan menyebabkan kerusakan parah pada lahan pertanian. Para petani di berbagai daerah di Jawa Tengah kerap mengeluhkan kerugian akibat hama ini, terutama saat musim tanam dan menjelang panen.
Menurut pakar hama Unsoed, pengendalian tikus tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Penggunaan racun kimia secara berlebihan justru dapat berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan menekankan pada pendekatan ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Beberapa metode yang disarankan antara lain sanitasi lahan untuk menghilangkan tempat persembunyian tikus, penggunaan perangkap, serta pemanfaatan predator alami seperti burung hantu. Selain itu, penanaman serentak dan pengaturan pola tanam juga dapat membantu mengurangi populasi tikus secara efektif.
Pakar Unsoed juga menekankan pentingnya edukasi kepada petani tentang pengendalian hama terpadu. Dengan pemahaman yang baik, petani dapat mengambil langkah yang tepat dan tidak bergantung pada pestisida kimia. Hal ini sejalan dengan upaya pertanian berkelanjutan yang semakin digalakkan.
Diharapkan solusi dari Unsoed dapat diadopsi oleh pemerintah daerah dan kelompok tani di Jawa Tengah. Sinergi antara akademisi, petani, dan pemangku kebijakan sangat diperlukan untuk mengatasi ancaman serangan tikus dan menjaga ketahanan pangan regional.
Ke depan, penelitian lebih lanjut tentang perilaku tikus dan teknologi pengendalian yang inovatif terus dikembangkan oleh Unsoed. Hal ini menunjukkan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung sektor pertanian yang tangguh dan produktif.


