Sebelas tahun lalu, tepatnya pada Mei 2015, seorang pendaki menjejakkan kaki di puncak Mahameru, Gunung Semeru, untuk kedua kalinya. Perjalanan yang penuh tantangan itu meninggalkan kenangan mendalam yang kini diabadikan dalam catatan perjalanan. Gunung tertinggi di Pulau Jawa ini selalu menawarkan pengalaman yang tak terlupakan, mulai dari medan yang berat hingga pemandangan kawah yang memukau.
Persiapan dilakukan jauh-jauh hari, termasuk perlengkapan dan fisik. Pada malam hari, suhu dingin menusuk tulang. Berbekal jaket tebal, lampu penerang, serta sedikit makanan dan minuman, rombongan bersiap memulai summit attack. Di pos ranger, mereka kembali diberi pengarahan mengenai rute, batasan area, dan tata tertib pendakian. Sekitar pukul 02.00, perjalanan dimulai dengan menyusuri hutan cemara dan melewati Pos Arcopodo, meski arca kembar yang melegenda itu konon sudah tidak berada di jalur tersebut.
Langkah demi langkah diayunkan dalam sunyi malam. Begitu tiba di batas vegetasi, peralihan antara hutan dan area pasir vulkanik, mereka berhenti sejenak untuk mengatur napas. Mencari tempat istirahat bukanlah perkara mudah karena jalur setapak yang sempit dan medan yang curam menuntut kehati-hatian tinggi. Salah melangkah sedikit saja, batu-batu bisa menggelinding dan membahayakan pendaki lain di bawah. Rombongan berjalan dengan tempo santai, bahkan beberapa kali disalip oleh pendaki lain. Hingga fajar menyingsing, puncak masih terasa jauh.
Baru pada pukul 07.00 WIB, mereka menjejakkan kaki di titik tertinggi Pulau Jawa, Mahameru, dengan kawah Jonggring Saloko yang gagah di hadapan mereka. Letupan abu dan gas vulkanik tampak menyembur setiap 20 hingga 30 menit sekali. Para pendaki sengaja menunggu momen tersebut untuk mendapatkan latar belakang foto yang dihiasi ‘wedhus gembel’, sebutan untuk asap dan abu vulkanik. Meski matahari sudah bersinar terik, angin puncak berhembus kencang dan menciptakan hawa dingin yang menggigit. Sesuai imbauan petugas, mereka tidak berlama-lama di atas sana.
Pukul 08.00 pagi, perjalanan turun dimulai menuju Camp Kalimati. Tantangan terbesar saat turun adalah ketelitian memilih jalur, karena beberapa kasus kecelakaan pendaki kerap terjadi akibat salah mengambil jalur hingga terperosok ke jurang, seperti di area Blank 75. Sekitar pukul 11.00, mereka tiba kembali di tenda. Rasa lelah langsung dibayar dengan istirahat panjang, memasak makan siang, membongkar tenda, dan bersiap melanjutkan perjalanan ke Ranu Kumbolo. Mereka sengaja memilih bermalam lagi di Ranu Kumbolo, belajar dari pengalaman pendakian tahun 2013 yang nekat turun langsung saat magrib.
Tiba di Ranu Kumbolo sekitar pukul 15.00 sore, menandai malam ketiga di gunung. Mereka mendirikan tenda di lokasi yang lebih dekat dengan tepi danau agar pemandangan pagi tidak terhalang. Aktivitas santai pun dilakukan, seperti menunaikan ibadah, makan, menyeruput kopi, dan merebahkan diri. Pagi harinya, mereka menikmati detik-detik matahari terbit dari celah bukit Ranu Kumbolo, pemandangan ikonik yang sekilas seperti lukisan anak SD. Setelah sarapan dengan sisa bahan makanan, mereka menghubungi pengemudi jip langganan untuk dijemput di Ranupane pukul 15.00. Perjalanan turun dimulai pukul 10.00 dengan santai untuk menikmati pemandangan terakhir.
Tepat pukul 14.00 mereka tiba di Ranupane dan jip sudah menunggu. Setelah melapor ke pos registrasi dan menyerahkan sampah bawaan, mereka melanjutkan perjalanan ke Pasar Tumpang. Dari sana, mereka naik angkutan desa menuju stasiun, sempat mampir membeli oleh-oleh manisan apel khas Malang dan keripik buah. Kereta Malioboro Ekspres berangkat pukul 21.00 malam dan tiba di Stasiun Tugu, Yogyakarta, sekitar pukul 3 pagi. Setelah menunggu pagi, mereka sarapan di Jalan Mangkubumi sambil menghitung biaya pendakian yang totalnya sekitar Rp650.000 per orang. Begitulah secuil kisah pendakian yang penuh kenangan, ditutup dengan kepulangan masing-masing ke rumah.
