Blora, Jawa Tengah – Upaya pembasmian hama tikus di sejumlah area persawahan di Kabupaten Blora mengalami kendala yang tidak biasa. Bukan karena kurangnya metode atau alat, melainkan karena kepercayaan masyarakat setempat terhadap mitos kerbau Nabi Sulaiman. Mitos tersebut membuat sebagian warga enggan membunuh tikus yang dianggap sebagai jelmaan dari hewan keramat tersebut.
Menurut kepercayaan yang berkembang secara turun-temurun, kerbau Nabi Sulaiman adalah hewan yang dimuliakan dan memiliki kekuatan gaib. Sebagian petani meyakini bahwa tikus yang sering muncul di sawah adalah perwujudan atau jelmaan dari kerbau tersebut. Oleh karena itu, mereka khawatir apabila membunuh tikus akan mendatangkan kesialan, musibah, atau bahkan murka dari alam gaib.
Dampak dari kepercayaan ini cukup signifikan. Populasi tikus di beberapa desa di Blora meningkat pesat karena tidak ada upaya pengendalian yang efektif. Akibatnya, tanaman padi banyak yang rusak, dan sejumlah petani mengalami gagal panen. Kerugian ekonomi pun dirasakan, terutama oleh mereka yang menggantungkan hidup dari hasil bertani.
Pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian telah berupaya melakukan sosialisasi dan penyuluhan mengenai bahaya hama tikus serta cara pengendalian yang aman dan ramah lingkungan. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya membuahkan hasil. Kepercayaan yang sudah mengakar membuat sebagian warga tetap menolak untuk membunuh tikus atau menggunakan racun yang disarankan.
Seorang penyuluh pertanian di Blora mengungkapkan bahwa pendekatan budaya menjadi kunci untuk mengubah pola pikir masyarakat. Pihaknya kini mencoba melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat dalam memberikan pemahaman bahwa pengendalian tikus tidak bertentangan dengan ajaran agama, asalkan dilakukan dengan cara yang tidak berlebihan dan tetap menjaga keseimbangan ekosistem.
Fenomena serupa sebenarnya tidak hanya terjadi di Blora. Di beberapa daerah lain di Jawa, kepercayaan terhadap hewan-hewan tertentu yang dianggap keramat sering menjadi tantangan dalam program pengendalian hama pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa aspek sosial-budaya sangat memengaruhi keberhasilan program pemerintah di lapangan.
Pemerintah berharap dengan pendekatan yang lebih persuasif dan melibatkan kearifan lokal, masyarakat dapat menerima program pembasmian tikus demi menjaga ketahanan pangan. Sementara itu, para petani diimbau untuk tetap waspada dan segera melaporkan serangan hama agar dapat ditangani sejak dini sebelum menyebar lebih luas.


