• Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, Oktober 10, 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
Portal Banyumas Raya
  • Beranda
  • Banyumas
  • Purwokerto
  • Cilacap
  • Banjarnegara
  • Kebumen
  • Jawa Tengah
  • Beranda
  • Banyumas
  • Purwokerto
  • Cilacap
  • Banjarnegara
  • Kebumen
  • Jawa Tengah
No Result
View All Result
Portal Banyumas Raya
No Result
View All Result
Home Banyumas

Latihan Semaphore di SD Negeri 1 Keniten Kedungbanteng, Asah Konsentrasi dan Kekompakan Pramuka Siaga

by Renae Browning
Agustus 29, 2026
in Banyumas
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Puluhan anggota Pramuka Siaga SD Negeri 1 Keniten, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, mengikuti latihan semaphore di lingkungan sekolah pada Jumat (28/8/2026). Dua bendera dikibarkan dengan berbagai posisi untuk menyampaikan pesan secara nonverbal. Kegiatan ini bertujuan mengasah ketangkasan, konsentrasi, kedisiplinan, serta kemampuan berkomunikasi tanpa suara sekaligus membentuk karakter anak agar lebih teliti, percaya diri, dan mampu bekerja sama.

Latihan diawali dengan upacara pembukaan untuk membangun kesiapan dan kedisiplinan peserta. Setelah itu, murid golongan Siaga dibagi ke dalam beberapa barung. Pembagian kelompok ini memberikan ruang bagi peserta untuk belajar bekerja sama dan membangun kekompakan dalam menyelesaikan tantangan selama latihan. Suasana semakin menarik ketika pembina memperkenalkan semaphore, keterampilan komunikasi menggunakan dua bendera dengan posisi tertentu yang mewakili huruf. Bagi anak-anak, materi ini menghadirkan pengalaman belajar berbeda karena mereka harus mengingat kode, memperhatikan gerakan teman, lalu menerjemahkan pesan yang disampaikan melalui kibaran bendera.

Kamabigus SD Negeri 1 Keniten, Kak Susi Lestari, S.Pd., menegaskan bahwa Pramuka mengajarkan disiplin, keberanian, kemandirian, dan kerja sama. “Melalui semaphore, mereka belajar bahwa untuk menyampaikan pesan diperlukan ketelitian, konsentrasi, dan kekompakan. Semoga pengalaman dalam latihan ini menjadi bekal karakter yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya. Ia menambahkan, setiap gerakan menuntut fokus dan kehati-hatian agar pesan tidak berubah makna. Proses tersebut melatih anak memahami bahwa komunikasi membutuhkan ketepatan, kesabaran, serta kemampuan mendengarkan dan menghargai orang lain.

Tantangan semakin terasa saat peserta mempraktikkan langsung. Mereka harus mengamati posisi dua bendera yang digerakkan teman, mengenali kode, lalu menerjemahkannya menjadi pesan. Kesalahan kecil pada posisi bendera dapat membuat pesan sulit dipahami, sehingga peserta harus mengulang dan memperbaiki gerakan. Meski begitu, suasana latihan tetap ceria. Anggota barung saling membantu, memberi arahan, dan menyemangati teman yang kesulitan. Dari proses ini, mereka belajar bahwa kemampuan tidak selalu muncul dalam sekali latihan, dan kesalahan justru menjadi bagian penting untuk memahami materi serta meningkatkan keterampilan secara bertahap.

Pembina Siaga, Kak Ana Meida Kurniastuti, S.Pd., mengungkapkan bahwa anak-anak tidak harus langsung sempurna. “Yang paling penting adalah mereka mau mencoba, berani melakukan kesalahan, kemudian memperbaikinya. Dari semaphore, anak belajar fokus, sabar, percaya diri, dan menghargai teman yang sedang menyampaikan pesan,” jelasnya. Ia menilai latihan semaphore memberikan pengalaman belajar konkret karena peserta tidak hanya menerima teori, tetapi langsung mempraktikkan keterampilan bersama teman satu regu. Interaksi selama latihan juga melatih anak menyesuaikan diri dengan kemampuan anggota lain, karena keberhasilan komunikasi semaphore bergantung pada kekompakan pengirim dan penerima pesan.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Mereka bergantian memegang bendera, mencoba berbagai posisi, menerjemahkan kode, serta mengoreksi gerakan yang belum tepat. Kegiatan ini memperkenalkan bahwa komunikasi tidak selalu melalui suara, tetapi bisa lewat simbol, gerakan, dan bahasa nonverbal. Setelah materi dan praktik selesai, latihan ditutup dengan upacara penutupan. Pembina memberikan evaluasi dan mengapresiasi semangat peserta. Penilaian tidak hanya berdasarkan kecepatan menghafal kode, tetapi juga keberanian mencoba, kedisiplinan, kerja sama, dan kemauan memperbaiki kesalahan. Pengalaman ini diharapkan terus dikembangkan dalam latihan berikutnya sehingga keterampilan menjadi kebiasaan positif.

Latihan semaphore di SD Negeri 1 Keniten menjadi gambaran bahwa kegiatan Pramuka mampu menghadirkan pembelajaran edukatif sekaligus menantang. Di balik kibaran dua bendera terdapat pelajaran tentang komunikasi, konsentrasi, ketelitian, kedisiplinan, kesabaran, dan kekompakan. Setiap gerakan memiliki arti, setiap kode membutuhkan ketepatan, dan setiap pesan menuntut kerja sama agar diterima dengan benar. Bagi Pramuka SD Negeri 1 Keniten, kibaran bendera bukan sekadar gerakan di udara, melainkan sarana belajar membaca pesan, memahami sesama, berani mencoba, dan tumbuh bersama.

Renae Browning

Renae Browning

Recommended

Pemprov Jateng Bersengketa Tanah Lahan dengan Pemdes Winong Boyolali

1 bulan ago

Ratusan Ribu Penumpang Kereta Api di Daop 5 Purwokerto Selama Long Weekend Maulid Nabi

2 bulan ago

Popular News

    Connect with us

    • Redaksi
    • Kode Etik Jurnalistik
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Privacy Policy

    © 2026 Portal Banyumas Raya. All rights reserved.

    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Banyumas
    • Purwokerto
    • Cilacap
    • Banjarnegara
    • Kebumen
    • Jawa Tengah

    © 2026 Portal Banyumas Raya. All rights reserved.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In