• Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, Oktober 10, 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
Portal Banyumas Raya
  • Beranda
  • Banyumas
  • Purwokerto
  • Cilacap
  • Banjarnegara
  • Kebumen
  • Jawa Tengah
  • Beranda
  • Banyumas
  • Purwokerto
  • Cilacap
  • Banjarnegara
  • Kebumen
  • Jawa Tengah
No Result
View All Result
Portal Banyumas Raya
No Result
View All Result
Home Kebumen

Gaspala SMAN 2 Kebumen Telusuri Gua Petruk, Soroti Ironi Tata Kelola Wisata

by Renae Browning
Agustus 29, 2026
in Kebumen
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Pada Sabtu, 29 Agustus 2026, lebih dari 50 siswa, guru, dan pembina Gaspala SMAN 2 Kebumen mengikuti penelusuran Gua Petruk di kawasan karst Gombong Selatan, Kebumen. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan melatih kepemimpinan dan kerja sama tim, tetapi juga mengungkap persoalan tata kelola objek wisata yang masih menyimpan ironi, mulai dari praktik sewa alat hingga maraknya open trip dengan harga melambung.

Kegiatan berawal dari ajakan pembina Gaspala, Sulistyo Budhi, melalui pesan singkat pada Jumat malam, 28 Agustus 2026. Seorang jurnalis yang juga mantan pengurus Gaspala turut serta. Rombongan berangkat pukul 09.45 WIB dengan jumlah peserta lebih dari 50 orang, terdiri atas siswa kelas X, pengurus panitia, tamu undangan, perwakilan kelas XII, dan pembina. Perjalanan diatur dalam kelompok dengan pemandu lokal di depan, pembina di tengah, dan jurnalis di barisan belakang.

Kegiatan ini menjadi refleksi bagi para peserta, terutama karena tahun sebelumnya Gaspala sempat mengajukan kegiatan serupa namun ditolak sekolah dengan alasan “terlalu berbahaya”. Penolakan tersebut, menurut jurnalis yang pernah menjadi pengurus, menunjukkan ketakutan struktural terhadap risiko yang berlebihan. Padahal, kawasan karst Gombong Selatan dan Gua Petruk memiliki nilai edukasi tinggi, terutama dalam memahami sistem hidrologi dan mitigasi krisis iklim. “Ruang kelas konvensional memiliki batas fisik, sementara alam menyediakan kurikulum autentik,” tulisnya dalam refleksi.

Di sisi lain, penelusuran ini juga mengungkap ironi tata kelola wisata Gua Petruk. Berdasarkan keterangan seorang pemandu, fasilitas perlengkapan standar seperti helm dan sepatu seharusnya sudah termasuk dalam tiket masuk. Harga tiket resmi tercatat Rp15.000 untuk hari biasa dan Rp20.000 untuk akhir pekan. Namun, praktik di lapangan masih ada pengunjung yang diminta membayar sewa alat terpisah, meski hanya Rp5.000 per item. “Sebenarnya sudah ada perintah dari dinas kalau tidak boleh alatnya disewakan (berbayar), karena itu sudah termasuk fasilitas. Tapi ya itu Mas, sering kejadian ada kebocoran dana yang keluar,” ujar pemandu tersebut.

Selain masalah sewa alat, pemandu juga mengeluhkan maraknya akun media sosial penyedia jasa open trip yang mematok tarif jauh di atas harga resmi, mulai dari Rp75.000, Rp90.000, hingga Rp120.000 per orang. Praktik ini umumnya menyasar wisatawan luar daerah yang belum mengetahui informasi tiket asli. “Padahal kami di sini tugasnya melayani pengunjung. Mau kami pandu, kami siap. Masalah nanti mau dikasih tip, itu sukarela,” imbuhnya. Para pemandu khawatir praktik ini akan menurunkan minat kunjungan dalam jangka panjang.

Kegiatan penelusuran sendiri berjalan lancar. Rombongan mencapai ujung lorong gua menjelang tengah hari, kemudian beristirahat dan kembali keluar untuk melakukan bersih-bersih, ibadah salat, dan makan siang. Selain rombongan Gaspala, tampak pula pengunjung dari Cilacap, Jawa Barat, serta mahasiswa yang sedang melaksanakan program KKN. Kehadiran mereka menambah semarak kawasan wisata yang juga menjadi laboratorium alam bagi pelajar.

Refleksi dari kegiatan ini menegaskan bahwa keputusan perizinan kegiatan alam bebas harus mempertimbangkan keselamatan dan kualitas tumbuh kembang siswa. Dengan dibukanya izin, tanggung jawab pembina dan generasi penerus adalah membuktikan bahwa kegiatan alam bebas dapat dijalankan dengan standar keselamatan dan disiplin tinggi. Di sisi lain, pengelola objek wisata diharapkan lebih transparan dalam tata kelola, termasuk menindak praktik sewa alat ilegal dan mengawasi harga open trip agar tidak merugikan wisatawan.

Renae Browning

Renae Browning

Recommended

Tanah Ambles di Jakenan Pati Mengancam Ratusan Rumah dan Saluran Irigasi

2 bulan ago

Teror Tikus di Sekitar Rawa Pening Ancam Petani Semarang

2 bulan ago

Popular News

    Connect with us

    • Redaksi
    • Kode Etik Jurnalistik
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Privacy Policy

    © 2026 Portal Banyumas Raya. All rights reserved.

    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Banyumas
    • Purwokerto
    • Cilacap
    • Banjarnegara
    • Kebumen
    • Jawa Tengah

    © 2026 Portal Banyumas Raya. All rights reserved.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In