SD Negeri 1 Ciarus menggelar kegiatan Persari dan Perkaju dalam rangka memperingati Hari Pramuka ke-65. Kegiatan yang diikuti seluruh anggota didik pangkalan SD Negeri 1 Ciarus bersama para pembina ini dirancang untuk membentuk karakter generasi muda melalui pengalaman langsung kepramukaan. Persari diperuntukkan bagi anggota Pramuka golongan Siaga, sedangkan Perkaju diikuti anggota Pramuka golongan Penggalang.
Kedua kegiatan ini menekankan nilai-nilai kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, keberanian, kerja sama, serta kepedulian terhadap lingkungan dan sesama. Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh antusiasme. Para peserta mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai aktivitas kepramukaan yang tidak hanya mengandalkan kemampuan fisik, tetapi juga melatih mental dan keterampilan sosial. Melalui kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama, anak-anak belajar memahami arti tanggung jawab terhadap kelompok, mematuhi aturan, menyelesaikan tugas, serta saling membantu ketika menghadapi tantangan.
Kepala Mabigus SD Negeri 1 Ciarus, Kak Irwan Nudin, S.Pd., menilai pelaksanaan Persari dan Perkaju memberikan pengalaman berharga bagi peserta didik. Menurutnya, kegiatan kepramukaan yang dikemas melalui pengalaman langsung mampu membantu anak memahami nilai-nilai positif dengan cara yang lebih menyenangkan dan bermakna. “Kegiatan Persari dan Perkaju menjadi pengalaman berharga bagi siswa. Melalui berbagai kegiatan kepramukaan, anak-anak belajar disiplin, mandiri, bertanggung jawab, dan bekerja sama,” ujar Kak Irwan Nudin.
Pandangan tersebut sejalan dengan upaya sekolah menjadikan Gerakan Pramuka sebagai salah satu sarana pembinaan karakter peserta didik. Kegiatan Persari dan Perkaju tidak semata-mata diarahkan untuk memeriahkan Hari Pramuka, tetapi juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk membangun rasa percaya diri dan keberanian. Dalam kegiatan kelompok, setiap peserta memiliki kesempatan mengambil peran, berkomunikasi dengan teman, serta belajar menyelesaikan persoalan bersama.
Guru SD Negeri 1 Ciarus, Kak Iqbal Budi Raharjo, menegaskan bahwa Gerakan Pramuka perlu terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya. Baginya, kepramukaan harus hadir sebagai pendidikan karakter yang benar-benar membekas dalam perilaku peserta didik, bukan sekadar kegiatan seremonial. “Pramuka harus terus bertumbuh, sesuaikan zaman dari tingkatan yang terstruktur. Pramuka bukan sekadar tempelan belaka, tetapi harus benar-benar tertanam dalam agar tercermin di tindakan,” tegas Kak Iqbal.
Sementara itu, Kak Umi Latifah, guru SD Negeri 1 Ciarus, melihat sisi kegembiraan menjadi kekuatan tersendiri dalam kegiatan kepramukaan. Menurutnya, ketika anak mendapatkan kesempatan belajar melalui permainan dan aktivitas bersama, proses pembentukan karakter dapat berlangsung secara alami. Anak-anak tidak merasa sedang digurui, tetapi memperoleh pengalaman yang kemudian dapat mereka refleksikan dalam kehidupan sehari-hari. “Kegiatan Pramuka ini sangat menyenangkan karena anak-anak dapat belajar sambil bermain bersama teman. Selain menambah pengalaman, kegiatan ini juga melatih keberanian, kekompakan, dan kepedulian terhadap lingkungan,” ungkap Kak Umi.
Peringatan Hari Pramuka ke-65 melalui Persari dan Perkaju di SD Negeri 1 Ciarus pada akhirnya bukan hanya menjadi agenda tahunan, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali pentingnya pendidikan karakter sejak dini. Melalui kegiatan yang terstruktur, menyenangkan, dan sarat pengalaman, para anggota Siaga dan Penggalang diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, bertanggung jawab, berani, mampu bekerja sama, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sesama. Dari halaman sekolah, semangat kepramukaan diharapkan terus tumbuh menjadi kebiasaan baik yang terbawa hingga kehidupan keluarga, masyarakat, dan masa depan mereka sebagai generasi penerus bangsa.


