Sebanyak 1.000 siswa SMAN 1 Klirong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, mengikuti kegiatan membatik menggunakan canting dalam rangka memperingati Hari Batik. Kegiatan tersebut melibatkan seluruh siswa yang membatik dengan teknik tulis, yakni menggambar motif di atas kain menggunakan canting yang diisi lilin panas.
Membatik dengan canting merupakan teknik tradisional yang menjadi salah satu ciri khas batik tulis. Berbeda dengan batik cap atau batik cetak, batik tulis dikerjakan secara manual dengan tangan, sehingga setiap helai kain memiliki karakter dan keunikan tersendiri. Teknik ini menuntut ketelitian, kesabaran, dan keterampilan dalam mengalirkan lilin sesuai pola motif yang diinginkan.
Hari Batik Nasional diperingati setiap 2 Oktober. Penetapan tanggal tersebut merujuk pada pengakuan batik Indonesia oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda atau Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2 Oktober 2009. Sejak itu, batik semakin dikenal tidak hanya sebagai kain bermotif, tetapi juga sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, seni, dan identitas bangsa.
Kegiatan membatik di lingkungan sekolah menjadi salah satu cara memperkenalkan kembali tradisi tersebut kepada generasi muda. Melalui praktik langsung, siswa tidak hanya mengenal beragam motif batik, tetapi juga memahami proses pembuatannya yang membutuhkan ketekunan. Pembelajaran semacam ini dinilai dapat menumbuhkan apresiasi terhadap budaya lokal sekaligus memperkuat pendidikan karakter.
Kabupaten Kebumen sendiri merupakan salah satu daerah di Jawa Tengah yang memiliki kekayaan budaya, termasuk tradisi membatik yang diwariskan dari generasi ke generasi. Partisipasi 1.000 siswa SMAN 1 Klirong dalam kegiatan ini menunjukkan upaya sekolah menghadirkan pengalaman budaya secara langsung, bukan sekadar materi teori di dalam kelas.
Selain sebagai peringatan Hari Batik, kegiatan tersebut diharapkan dapat mendorong siswa untuk terus melestarikan batik sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia. Dengan mengenalkan teknik membatik menggunakan canting sejak dini, tradisi ini diharapkan tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.


