Banyumas – Sebanyak puluhan pembina Pramuka dari berbagai Kwartir Ranting (Kwarran) mengikuti lomba keterampilan survival dan memasak rimba dalam ajang Scouting Skills Competition (SSC) 2026 yang digelar di Bumi Perkemahan Kendalisada, Banyumas, pada Sabtu–Minggu, 22–23 Agustus 2026. Lomba ini menantang peserta untuk mengolah makanan menggunakan teknik tradisional dengan memanfaatkan bambu dan peralatan sederhana yang tersedia di alam. Tidak sekadar menghasilkan hidangan lezat, kegiatan ini menguji kreativitas, ketangkasan, kekompakan, kemandirian, serta penerapan keterampilan kepramukaan dalam kondisi terbatas.
Setiap tim terdiri atas empat pembina yang bekerja bersama sejak menyiapkan bahan, membuat tungku, menyalakan api, menentukan teknik memasak, hingga menyajikan nasi liwet beserta lauk-pauk. Situasi ini menuntut kerja sama yang solid karena setiap tahapan saling berkaitan. Salah seorang panitia SSC 2026 menjelaskan bahwa lomba dirancang untuk menguji kemampuan peserta dalam menerapkan keterampilan kepramukaan secara langsung. Menurutnya, kemampuan memasak hanyalah salah satu bagian dari tantangan karena peserta juga harus memperlihatkan kreativitas, ketangkasan, kekompakan, serta kemampuan bertahan dalam situasi sederhana.
“Kami ingin peserta tidak hanya mampu memasak, tetapi juga menunjukkan kreativitas, ketangkasan, kekompakan, dan kemampuan bertahan dalam situasi sederhana,” ujar panitia. Tantangan tersebut sekaligus memberikan pengalaman kepada para pembina mengenai bagaimana keterampilan sederhana dapat dikembangkan menjadi kemampuan yang berguna dalam kegiatan kepramukaan.
Semangat kompetisi terlihat sejak para peserta mulai menyiapkan bahan dan peralatan. Bambu serta tempurung dimanfaatkan sebagai bagian dari teknik memasak tradisional, sementara api harus dijaga agar tetap stabil sehingga nasi dan lauk-pauk dapat matang secara merata. Peserta dari Kwarran Kedungbanteng turut ambil bagian dengan antusiasme tinggi. Mereka harus membagi peran secara cermat, mulai dari mengolah bahan makanan, menjaga nyala api, mengawasi proses pemasakan, hingga membersihkan area perlombaan. “Kami sangat antusias mengikuti lomba ini karena bukan hanya soal memasak, tetapi juga bagaimana kami bekerja sama dan mencari cara terbaik menggunakan peralatan sederhana,” kata salah seorang peserta dari Kwarran Kedungbanteng.
Tantangan semakin terasa ketika peserta harus mengendalikan api sekaligus memastikan seluruh masakan memiliki tingkat kematangan yang tepat. Penggunaan bambu dan tempurung membutuhkan ketelitian karena panas tidak dapat dikendalikan seperti ketika menggunakan peralatan memasak modern. Salah seorang peserta mengungkapkan bahwa kondisi tersebut membuat seluruh anggota tim harus bekerja secara terpadu. “Kami harus benar-benar kompak, karena kalau satu orang hanya fokus pada masakan, yang lain harus mengatur api, menyiapkan bahan, dan menjaga kebersihan,” ujarnya.
Panitia tidak hanya menilai cita rasa hidangan, tetapi juga memperhatikan proses yang dilakukan setiap tim. Beberapa aspek penilaian meliputi kreativitas penyajian, teknik memasak, cita rasa masakan, serta kebersihan tempat selama perlombaan berlangsung. “Kami menilai bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga prosesnya, termasuk bagaimana peserta menjaga kebersihan dan menerapkan teknik memasak rimba dengan baik,” tutur panitia. Penilaian tersebut menegaskan bahwa memasak dalam konteks kepramukaan bukan hanya tentang menghasilkan makanan, tetapi juga tentang proses belajar menerapkan keterampilan secara bertanggung jawab.
Lebih dari sekadar adu keterampilan memasak, lomba survival dan memasak rimba di Kendalisada menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan kreativitas, kemandirian, kepemimpinan, dan kerja sama dalam satu tantangan. Api, bambu, tempurung, bahan pangan sederhana, serta keterbatasan peralatan justru menjadi media untuk menguji karakter para pembina. Antusiasme Kwarran Kedungbanteng memperlihatkan bahwa semangat kepramukaan dapat tumbuh kuat melalui tantangan yang sederhana tetapi bermakna. Dari tungku kecil yang menyala di tengah perkemahan, para peserta bukan hanya berusaha menyajikan nasi liwet terbaik, tetapi juga menunjukkan bahwa ketangguhan lahir dari keterbatasan, kreativitas tumbuh dari tantangan, dan rasa juara dibangun melalui kekompakan.


