Menjelang Jambore Ranting (Jamran) Lumbir 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Agustus 2026 di Desa Cirahab, Kwartir Ranting (Kwarran) Lumbir menggelar Temu Juri di Gedung KPRI Dwija Usaha Lumbir. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh personel yang dipercaya menjadi juri dalam berbagai mata kegiatan Jamran, dengan tujuan memperkuat objektivitas dan transparansi penilaian.
Acara diawali dengan ice breaking yang dipandu oleh Kak Iguh Widodo. Para peserta diajak mengikuti permainan berhitung dan mencari pasangan untuk membangun suasana komunikatif sebelum memasuki pembahasan utama. Setelah itu, penyampaian materi dan penjelasan teknis penjurian menjadi fokus, mencakup aspek penilaian administrasi hingga kegiatan praktik seperti penjelajahan.
Ketua Kwarran Lumbir, Ary Kurniawan, menekankan bahwa objektivitas menjadi prinsip utama yang harus dipegang seluruh juri. Menurutnya, tugas juri bukan hanya memberikan angka, tetapi juga menjaga integritas proses penilaian agar hasil yang diperoleh benar-benar mencerminkan kemampuan peserta. “Ary Kurniawan menyampaikan bahwa juri harus mampu melakukan penilaian secara objektif. Tingkat akuntabilitas dan kejujuran menjadi fokus utama dalam kegiatan penjurian ini,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Ary juga menyoroti pentingnya menjaga ruang rekapitulasi nilai agar tetap steril dari berbagai kepentingan yang dapat memengaruhi hasil penilaian. “Ruang rekap nilai diusahakan se-steril mungkin. Selamat menjalankan tugas dengan baik,” pesan Ary kepada seluruh juri. Ia menambahkan bahwa penilaian dalam kepramukaan harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, karena setiap peserta berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa keberpihakan.
Sementara itu, Seksi Juri, Pria Santosa, menjelaskan bahwa Temu Juri menjadi bagian penting dalam persiapan teknis menjelang Jamran. Pembahasan tidak hanya berfokus pada penilaian administrasi, tetapi juga mencakup teknis penilaian kegiatan lapangan seperti penjelajahan yang membutuhkan pemahaman indikator secara detail. “Penjelasan tentang penjurian mulai dari penilaian administrasi sampai pada penilaian kegiatan penjelajahan,” jelas Pria Santosa.
Forum ini juga menjadi ruang untuk menyamakan persepsi antara panitia, juri, pembina, dan peserta, sehingga aturan dan mekanisme yang diterapkan dapat dipahami secara jelas. Penyamaan persepsi ini bertujuan menghindari miskonsepsi yang berpotensi menimbulkan perbedaan tafsir dalam memberikan nilai. Langkah tersebut menjadi bentuk kesiapan Kwarran Lumbir dalam menyelenggarakan Jamran 2026 secara profesional.
Selain aspek kompetisi, Jamran juga menjadi ruang pendidikan bagi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan, kedisiplinan, kerja sama, kemandirian, kreativitas, dan karakter. Dengan kesiapan juri yang semakin matang, Jamran Lumbir 2026 di Desa Cirahab diharapkan tidak hanya berlangsung meriah, tetapi juga menghadirkan kompetisi yang sehat, adil, dan edukatif. Melalui koordinasi ini, Kwarran Lumbir berupaya memastikan seluruh unsur memiliki pemahaman yang sama sebelum kegiatan dimulai, dengan prinsip objektivitas, akuntabilitas, kejujuran, dan transparansi sebagai landasan utama.


