• Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Privacy Policy
Sabtu, Oktober 10, 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
Portal Banyumas Raya
  • Beranda
  • Banyumas
  • Purwokerto
  • Cilacap
  • Banjarnegara
  • Kebumen
  • Jawa Tengah
  • Beranda
  • Banyumas
  • Purwokerto
  • Cilacap
  • Banjarnegara
  • Kebumen
  • Jawa Tengah
No Result
View All Result
Portal Banyumas Raya
No Result
View All Result
Home Jawa Tengah

Mitos Kerbau Nabi Sulaiman Hambat Pembasmian Tikus di Blora

by Renae Browning
Agustus 23, 2026
in Jawa Tengah
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Upaya pembasmian hama tikus di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mengalami kendala akibat adanya mitos yang berkembang di masyarakat tentang kerbau Nabi Sulaiman. Kepercayaan ini membuat sebagian warga enggan atau bahkan menghalangi langkah pengendalian hama yang dilakukan oleh petugas, sehingga program tersebut menjadi mandek.

Mitos kerbau Nabi Sulaiman merupakan kepercayaan yang menganggap bahwa hewan tersebut adalah kerbau yang dikaitkan dengan Nabi Sulaiman, sehingga dianggap keramat atau memiliki kekuatan gaib. Di beberapa daerah, mitos serupa juga dipercaya dapat membawa berkah atau bencana jika diganggu. Keyakinan ini masih mengakar kuat di sebagian masyarakat Blora, terutama di kalangan petani yang menggantungkan hidupnya pada hasil panen.

Akibat mitos ini, petugas yang bertugas melakukan pembasmian tikus di Blora menghadapi penolakan dari sebagian masyarakat. Mereka khawatir tindakan tersebut akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti musibah atau kesialan yang menimpa keluarga maupun lingkungan sekitar. Kekhawatiran ini membuat petugas kesulitan untuk menjalankan tugasnya secara optimal.

Kondisi ini menyebabkan program pengendalian hama tikus menjadi tidak berjalan lancar atau mandek. Padahal, serangan tikus dapat menyebabkan gagal panen dan kerugian ekonomi yang signifikan bagi para petani. Jika tidak segera diatasi, populasi tikus yang tidak terkendali dapat mengancam ketahanan pangan di wilayah tersebut.

Pemerintah daerah setempat diharapkan dapat melakukan sosialisasi dan pendekatan yang lebih baik kepada masyarakat untuk menjelaskan pentingnya pembasmian tikus tanpa mengabaikan kepercayaan yang ada. Pendekatan yang melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama mungkin diperlukan untuk mengatasi kendala ini, sehingga program pengendalian hama dapat berjalan tanpa menimbulkan konflik dengan nilai-nilai lokal.

Sementara itu, para petani di Blora diharapkan tetap waspada terhadap serangan hama tikus yang dapat merusak tanaman. Upaya pengendalian yang ramah lingkungan dan tidak bertentangan dengan kepercayaan lokal bisa menjadi alternatif, misalnya dengan menggunakan predator alami atau metode tradisional yang lebih diterima oleh masyarakat.

Kejadian ini menunjukkan bahwa faktor budaya dan kepercayaan masih memegang peranan penting dalam pelaksanaan program pemerintah di daerah. Diperlukan kearifan dalam menyikapi mitos yang berkembang agar program tetap berjalan tanpa menimbulkan gejolak sosial. Dengan komunikasi yang baik, diharapkan masyarakat dapat memahami urgensi pengendalian hama tanpa harus mengorbankan keyakinan mereka.

Renae Browning

Renae Browning

Recommended

Perajin Tenun Troso Jepara Kembangkan Motif Bulu Perindu, Bidik Pasar Luar Jawa

1 bulan ago

Kebakaran Rumah di Candisari Semarang, Diduga Berawal dari Tiga Balita Bermain Api

1 bulan ago

Popular News

    Connect with us

    • Redaksi
    • Kode Etik Jurnalistik
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Privacy Policy

    © 2026 Portal Banyumas Raya. All rights reserved.

    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Banyumas
    • Purwokerto
    • Cilacap
    • Banjarnegara
    • Kebumen
    • Jawa Tengah

    © 2026 Portal Banyumas Raya. All rights reserved.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In