Sebanyak 960 ribu warga Jawa Tengah masih berstatus menganggur. Tingginya angka pengangguran di provinsi tersebut menjadi perhatian, dan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru bagi angkatan kerja yang belum terserap.
Angka 960 ribu penganggur itu menggambarkan besarnya tantangan ketenagakerjaan di Jawa Tengah. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa lapangan kerja yang tersedia belum sepenuhnya mampu menampung warga yang mencari pekerjaan, sehingga dibutuhkan perluasan kesempatan kerja di berbagai sektor.
Dalam konteks itu, UMKM disebut sebagai salah satu sektor yang paling diandalkan untuk menyerap tenaga kerja. UMKM selama ini dikenal sebagai tulang punggung perekonomian daerah karena jumlahnya yang besar dan tersebar hingga ke tingkat desa, sehingga dinilai lebih fleksibel dalam membuka peluang kerja dibandingkan sektor usaha berskala besar.
Harapan agar UMKM tumbuh dan berkembang pun mengemuka. Jika usaha mikro, kecil, dan menengah mampu bertahan serta memperluas kegiatan usahanya, kebutuhan tenaga kerja diperkirakan turut meningkat. Kondisi itu diharapkan dapat membantu menekan jumlah pengangguran di Jawa Tengah secara bertahap.
Meski demikian, besarnya peran UMKM tidak lepas dari berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan modal, akses pasar, hingga kemampuan bersaing. Karena itu, dukungan terhadap pelaku UMKM dinilai penting agar mereka dapat terus beroperasi dan menciptakan lapangan kerja baru.
Persoalan pengangguran di Jawa Tengah dengan angka 960 ribu orang menjadi pekerjaan rumah bersama. Selain mendorong pertumbuhan UMKM, diperlukan pula upaya lintas pihak agar angkatan kerja yang ada dapat terserap dan kesejahteraan warga meningkat.


