• Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Privacy Policy
Jumat, Oktober 9, 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
Portal Banyumas Raya
  • Beranda
  • Banyumas
  • Purwokerto
  • Cilacap
  • Banjarnegara
  • Kebumen
  • Jawa Tengah
  • Beranda
  • Banyumas
  • Purwokerto
  • Cilacap
  • Banjarnegara
  • Kebumen
  • Jawa Tengah
No Result
View All Result
Portal Banyumas Raya
No Result
View All Result
Home Banyumas

MENDOAN, Model Pendampingan Sekolah di Banyumas Gabungkan Pendekatan Humanis dan Teknologi

by Renae Browning
Oktober 3, 2026
in Banyumas
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Pengawas sekolah pada Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Dra. Wiwi Parluki, M.Pd., mengembangkan sebuah model pendampingan sekolah bernama MENDOAN. Model tersebut memadukan pendekatan humanis dengan pemanfaatan teknologi digital untuk membantu sekolah mengenali kebutuhan, menentukan prioritas, menjalankan perbaikan, serta melihat hasilnya berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

MENDOAN merupakan akronim dari Menguatkan, Eksplorasi, Nyata, Digital, Optimalisasi, Adaptif, dan Numerasi. Ketujuh unsur itu menjadi rangkaian pendekatan dalam membangun pendampingan yang lebih dekat dengan kebutuhan sekolah. Di dalam model tersebut, literasi ditempatkan sebagai bagian yang melekat dalam proses pendampingan. Literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami informasi, mengajukan pertanyaan, menelaah persoalan, membedakan fakta dan dugaan, serta menggunakan informasi sebagai dasar dalam mengambil keputusan.

Wiwi memandang setiap sekolah memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda sehingga pendampingan tidak dapat dilakukan dengan pola yang seragam. Kondisi sekolah perlu dipahami terlebih dahulu melalui dialog, observasi, data, dan pengalaman warga sekolah. Tahap pertama dalam pendekatan STAR adalah Situation, yakni mengenali situasi atau kondisi yang sedang dihadapi sekolah. Tahap tersebut menjadi pintu masuk sebelum menentukan tindakan. Dalam praktiknya, pengawas perlu memberikan ruang kepada kepala sekolah dan guru untuk menyampaikan pengalaman, tantangan, maupun kebutuhan mereka. Pendekatan itu menempatkan sekolah sebagai mitra yang memiliki pengalaman dan potensi, bukan sekadar pihak yang menerima instruksi.

Persoalan pembelajaran, misalnya, tidak langsung dijawab dengan solusi yang sama untuk semua sekolah. Data hasil belajar, kondisi siswa, kemampuan guru, sarana prasarana, hingga lingkungan sekolah perlu dilihat secara utuh. Teknologi juga ditempatkan sebagai alat pendukung. Kehadiran aplikasi atau platform digital tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Teknologi akan memberikan manfaat ketika digunakan untuk membantu pekerjaan, mengakses informasi, mengelola data, memantau perkembangan, dan mendukung pengambilan keputusan. Literasi dan numerasi pun dihadirkan dalam aktivitas yang dekat dengan kehidupan siswa, seperti membaca tabel, memahami grafik, menghitung kebutuhan, membandingkan harga, hingga menggunakan data untuk menentukan pilihan.

Setelah kondisi sekolah dipahami, tahap berikutnya adalah Task, yaitu menentukan tugas, prioritas, dan langkah yang perlu dilakukan. Pada tahap tersebut, kebutuhan yang telah ditemukan tidak berhenti sebagai catatan atau rekomendasi. Sekolah diajak menerjemahkannya menjadi rencana yang lebih konkret, mulai dari apa yang perlu dilakukan, siapa yang terlibat, sumber daya apa yang tersedia, hingga indikator keberhasilannya. Pendampingan diarahkan agar sekolah semakin mampu menyelesaikan persoalannya sendiri. Tujuannya bukan menciptakan ketergantungan kepada pengawas, tetapi membangun kemampuan kepala sekolah dan guru untuk menemukan, menjalankan, serta mengevaluasi solusi. Guru juga mendapatkan ruang untuk melakukan eksplorasi, mencoba strategi pembelajaran, mengamatinya, kemudian merefleksikannya bersama untuk mengetahui bagian yang sudah efektif dan yang masih membutuhkan perbaikan.

Tahap ketiga adalah Action, yakni menjalankan langkah yang telah direncanakan. Pada tahap itu, tujuh unsur MENDOAN menjadi arah dalam proses pendampingan. Menguatkan berarti membangun kemampuan sekaligus kepercayaan diri kepala sekolah dan guru; Eksplorasi berarti mencari informasi dan memahami persoalan sebelum menentukan solusi; Nyata berarti pendampingan berangkat dari masalah yang benar-benar dihadapi sekolah. Unsur Digital menempatkan teknologi sebagai sarana untuk memperkuat pekerjaan. Wiwi memanfaatkan sejumlah sarana digital, antara lain Si PEMODU, Si CANTIK, pintukaihwiwi.com, dan Pendikar. Salah satunya adalah PINTU KAIH, sarana pemantauan pembiasaan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di sekolah binaan yang juga menyediakan panduan bagi pendidik, sekolah, dan orang tua. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tetap membutuhkan kemampuan literasi agar guru dan warga sekolah mampu memeriksa sumber informasi, memahami isi, serta memilih bahan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa.

Optimalisasi berarti memanfaatkan sumber daya yang telah dimiliki sekolah, mulai dari pengalaman guru, buku, fasilitas, komunitas belajar, lingkungan sekitar, hingga dukungan orang tua. Sementara Adaptif berarti sekolah terbuka terhadap perubahan, karena strategi yang berhasil di satu sekolah belum tentu dapat diterapkan dengan cara yang sama di sekolah lain. Adapun Numerasi diarahkan untuk membangun kemampuan menggunakan angka, data, dan informasi kuantitatif dalam memahami persoalan serta mengambil keputusan. Tahap terakhir dalam STAR adalah Result, yakni melihat hasil dari tindakan yang telah dilakukan. Hasil pendampingan tidak selalu harus berupa pencapaian besar; perubahan sederhana yang terjadi secara konsisten juga menjadi bagian dari keberhasilan, seperti guru yang mulai menggunakan strategi pembelajaran sesuai kebutuhan siswa, kepala sekolah yang semakin mampu membaca data, meningkatnya keterlibatan siswa, atau semakin tertibnya pemanfaatan teknologi. Hasil tersebut perlu didukung bukti berupa data hasil belajar, catatan refleksi, hasil observasi, kehadiran siswa, produk pembelajaran, dokumentasi kegiatan, maupun umpan balik siswa, sehingga pendampingan tidak hanya didasarkan pada kesan.

Renae Browning

Renae Browning

Recommended

Dua Unit Mainan Sewaan PKL di Alun-Alun Kembangjoyo Pati Digasak Pencuri

2 hari ago

Tangis Fadia Arafiq Pecah di Sidang Terdakwa Kasus Korupsi Semarang

4 minggu ago

Popular News

    Connect with us

    • Redaksi
    • Kode Etik Jurnalistik
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Privacy Policy

    © 2026 Portal Banyumas Raya. All rights reserved.

    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Banyumas
    • Purwokerto
    • Cilacap
    • Banjarnegara
    • Kebumen
    • Jawa Tengah

    © 2026 Portal Banyumas Raya. All rights reserved.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In