Konflik Yaman kembali meningkat setelah kelompok Houthi dikabarkan berhasil menguasai jalur strategis Laut Merah dan melancarkan serangan terhadap pangkalan militer Arab Saudi. Aksi ini menandai eskalasi terbaru dalam perang yang telah berlangsung lebih dari satu dekade, memicu kekhawatiran akan meluasnya ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan yang beredar, Houthi yang berbasis di Yaman utara telah memperluas operasi militer mereka ke perairan internasional. Penguasaan atas Laut Merah memberikan mereka kemampuan untuk mengganggu salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, yang menghubungkan Eropa, Asia, dan Afrika. Serangan terhadap kapal kargo dan kapal perang telah dilaporkan dalam beberapa pekan terakhir, menimbulkan ancaman langsung terhadap keamanan maritim global.
Di sisi lain, serangan terhadap pangkalan militer Saudi menunjukkan bahwa Houthi mampu menjangkau target di luar perbatasan Yaman. Mereka dilaporkan menggunakan rudal balistik dan drone untuk menyerang instalasi militer di wilayah selatan Arab Saudi. Sebelumnya, kelompok ini juga kerap menembakkan rudal ke bandara dan fasilitas minyak Saudi sebagai bagian dari strategi mereka untuk menekan koalisi pimpinan Riyadh.
Konflik Yaman sendiri telah berlangsung sejak 2014, ketika Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan memaksa pemerintah yang diakui internasional untuk melarikan diri. Arab Saudi kemudian membentuk koalisi militer untuk memulihkan pemerintahan yang sah. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil, dan perang telah menewaskan puluhan ribu orang serta menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia menurut PBB.
Eskalasi terbaru ini terjadi di tengah upaya diplomasi yang mandek. Beberapa pihak menyerukan gencatan senjata dan solusi politik, tetapi Houthi terus menuntut penghentian total serangan koalisi dan pencabutan blokade sebelum mereka bersedia bernegosiasi. Sementara itu, Arab Saudi menegaskan bahwa mereka akan terus membela wilayahnya dan mengamankan jalur pelayaran dari ancaman Houthi.
Dampak dari konflik ini tidak hanya dirasakan di Yaman dan Arab Saudi, tetapi juga di seluruh dunia. Gangguan di Laut Merah telah memicu kenaikan biaya pengiriman dan harga energi, serta mengancam rantai pasokan global. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya telah mengerahkan aset militer untuk mengawal kapal-kapal dagang, namun langkah tersebut dinilai belum cukup untuk meredakan ketegangan.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda de-eskalasi. Sebaliknya, kedua belah pihak tampak semakin memperkuat posisi mereka. Masyarakat internasional terus mendesak agar kembali ke meja perundingan, tetapi dengan kondisi di lapangan yang semakin kompleks, prospek perdamaian di Yaman masih jauh dari harapan. Situasi ini menjadi pengingat bahwa konflik yang tampaknya lokal dapat dengan cepat menjadi krisis global.


